Senin, 10 September 2012

Kontekstualisasi


PENDAHULUAN
            Kontekstualisasi sudah ada sejak zaman Perjanjian Lama, bahkan Allah sendiri menyatakan diriNya kepada umat manusia melalui kebudayaan manusia.  Dengan kata lain Allah sedang berkontekstualisasi.  Salah satu cara Allah berkontekstualisasi dengan manusia adalah, Ia memperkenalkan bangsa pilihanNya dengan menyamakan diriNya sebagai seorang Gembala.  Kenapa Allah lebih memilih menyamakan diriNya sebagai seorang Gembala?
            Paper ini akan membahas tentang arti dan tujuan mengapa Allah lebih memilih untuk menyamakan diriNya sebagai Gembala, dan apa yang sebenarnya yang membuat istilah Gembala itu menjadi istimewa.  Dengan mengadakan studi pustaka, penulis akan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan di atas.  Biarlah jawaban yang dikemukakan oleh penulis dapat menjadi pengetahuan bagi para pembacanya.


Latar Belakang
            Alkitab menempatkan Allah di atas dan bekerja melalui budaya.  Allah yang maha tinggi juga menaruh perhatian pada manusia serta seluruh ciptaanNya.  Alkitab memandang kebudayaan itu sebagai positif dan juga sebagai negative.  Positif karena didukung oleh mandat budaya (Kej.1:28).  Kebudayaan adalah negative, karena pengajaran segala kemungkinan dilakukan oleh manusia sebagai mandataris dalam diri dosa (Rom. 3:25;5:12).[1]
Pada  zaman dahulu dari dunia Perjanjian Lama, kepedulian Allah dengan bangsa Israel digambarkan di dalam hubungan seorang Gembala dengan domba-dombanya.  Banyak orang percaya biasanya mengutip perkatan yang akrab tersebut “Tuhan adalah Gembalaku”, Nabi Yesaya juga yang sama-sama mengesankan tentang gambaran Allah, dia merawat atau memelihara jemaah seperti seorang Gembala, dia mengumpulkan anak domba di atas bahunya dan menggendong mereka.  Demikian juga Allah memimpin dengan lembut.  Alangkah menariknya Allah digambarkan sebagai seorang Gembala.
            Latar belakang yang lebih luas menjelaskan bahwa Gembala pada dasarnya adalah seorang pemimpin.  Kewajiban Gembala adalah memberikan makan kepada dombanya, memelihara dombanya, memastikan bahwa dombanya mendapat padang rumput yang subur dan menjaga keutuhan kawanan domba.  Di tanah Palestina banyak orang menjadi seorang Gembala, yang memelihara banyak kawanan domba.
 
Isi
Arti Gembala
Analog yang sangat penting, yaitu Gembala.  Penting untuk memeriksa analog ini dengan seksama apabila hendak memperoleh pemahamn penuh tentang sifat dasar kepemimpinan Allah dengan menggunakan istilah Gembala.  Memang wajar untuk memilih analog Gembala bagi suatu bangsa yang akar budayanya terdapat dalam kehidupan nomadis.  Di tempat lain dalam dunia purba ”Gembala” digunakan secara luas sebagai gelar untuk para dewa dan raja.  Memerintah dan menggembalakan umat.[2]
Dari model kepemimpinan,yakitu mentor,  model kepala atau pemimpin itu semua adalah gambaran dari kepemimpinan seorang Gembala. Jika  dilihat secara etimologi atau secara arti tata bahasa kata “Gembala” dalam bahasa Ibrani dalam bentuk partisipium adalah “Ro’eh” dari kata “Ra’ah”, dalam bahasa Yunani “Poimen” yang memiliki pengertian para raja dan penguasa yang berulang-ulang disebut Gembala oleh Homer dan penulis-penulis lain di luar Alkitab (Yeh. 34).[3] dan kemudian dalam Alkitb terjemahan inggris kata tersebut diterjemahkan  shepherd” dan yang kemudian dalam bahasa indonesia diterjemahkan menjadi “menjaga, menuntun”.  Dalam terjemaha NKJV kata “Gembala” ditulis “Feed”yang artinya “memberi makan”
Model kepemimpinan seorang Gembala merupakan alasan yang bagus atau cocok karena seorang Gembala adalah seorang yang tinggal bersama-sama dengan domba-dombanya.  Seorang Gembala mengenali nama-nama domba-dombanya.  Dia merawat yang muda, membalut yang terluka, memperdulikan yang lemah dan membela atau melindungi domba-dombanya.  Seorang Gembala aromanya seperti dombanya.[4]  Seorang Gembala akan makan, minum dan tidur di antara Gembala-gembalnya.  Seorang Gembala akan selalu mengasi domba-dombanya dan akan selalu berwaspada, ia akan selalu terjaga dari tidurnya hanya untuk mengawasi domba-dombanya.  Allah melalui Alkitab memberikan prinsip penggembalaan yang luar biasa sederhana, namun mempunyai pengaruh atau dampak kekuatan yang sedemikian besar.
Pekerjaan menjadi seorang Gembala adalah pekerjaan yang membutuhkan keberanian.  Dimusim kemarau yang panjang menuntut agar Gembala terus menerus tanpa kenal lelah berusaha untuk mencari padang rumput yang baru.[5]  Seorang Gembala harus melindungi dombanya dari serangan binatang buas.  Seorang Gembala harus meninggalkan rumah dan keluarganya untuk waktu yang panjang hanya demi mencarikan padang rumput yang hijau untuk domba-dombanya, bahkan mereka harus rela menempuh perjalanan yang cukup jauh bahkan memerlukan waktu berhari-hari.

Dasar Penggembalaan dari Perspektif Alkitab
Para pembaca Perjanjian Lama akan mempunyai gambaran begitu jelas mengenai Allah sebagai figur Gembala.  Hubungan kepedulian Allah dengan umatNya begitu lembut bagaikan “seorang Gembala dengan dombanya” kita sekalian seperti domba yang tersesat, namun kita masih mempunyai seorang Gembala yang baik yang akan menyayangi kita dan memimpin kita dengan lembut.[6]

Perjanjian Lama
Nabi, Iman, Raja sebagai Gembala
            Disini bisa dilihat Bahwa figur Gembala dikenakan juga kepada orang-orang pilihan Allah.  Allah telah menjadi pelopor sebagi seorang Gembala dan sebagai teladan yang baik sebagi seorang Gembala.  Kemudian Nabi, Iman Raja sebagai gambaran Allah yang merupakan gambaran seorang Gembala.  Ketika Allah memilih Daud untuk menjadi raja  (Gembala) menurut kehendak Allah sendiri, Allah mengambil dia dari kandang domba.  Allah mengangkat dia untuk menjadi Gembala bagi umatNya, dan Daud menggembalakan umat Allah dengan penuh integritas.[7] 
            Tuhan juga mengharapkan nabi-nabiNya dan para Imam Israel untuk mengGembalakan umatNya.  Meskipun banyak dari antara mereka yang tidak hidup di dalam peranan mereka sebagai Gembala.  Allah tetap datang lagi dan lagi dengan tetap memakai ide kepemimpinan sebagai Gembala.  Gembala adalah merupakan metafora dari pemimpin Israel yang tidaka akan hilang di dalam bangsa Israel.

Perjanjian Baru
Yesus sebagai Gembala
            Di dalam Perjanjian Baru, Yesus adalah Gembala kita. Di dalam Perjanjian Lama Tuhan sudah memberikan petunjuk tentang kedatangan seorang Gembala.  Yesus meninggalkan kesenangan dan kenyamananNya di Sorga dan lebih memilih untuk datang kepada dunia kita untuk menjadi Gembala kita, sehingga aromaNya seperti domba.  Yesus berkeringat juga seperti kita.  Dia juga berjlan dengan kita di jalan yang sempit.  Ia berani melawan serigala-serigala, dicobai dan bersama-sama berjuang dengan kita.  Yang kudus Israel datang dalam Yesus Kristus untuk menjadi Gembala yang baik bagi kita.[8]
Para Rasul sebagai Gembala
            Yesus meninggalkan model kepemimpinan Gembala di dalam kehidupan para rasul.  Sebanyak tiga kali dalam satu percakapan yang singkat, Yesus memerintahkan Petrus “Gembalakanlah domba-dombaKu, perhatikanlah domba-dombaKu, dan berilah maka domba-dombaKu ”.  Maksud dari perkataan Yesus adalah supaya Petrus mengambil gaya kepemimpinan spiritual Yesus.  Yesus telah memberi model atau teladan gaya Gembala dalam kepemimpinan dan semua ini adalah yang para murid gunakan di dalam kehidupan kepemimpinan mereka dan juga sebagai model bagi yang lainnya.[9]

Sekarang Pemimpin Gereja sebagai Gembala
            Petrus dan Paulus keduanya telah meninggalkan model atau teladan kepemimpinan Gembala pada kita.  Paulus dalam suratnya mengatakan Kis. 20:28 ”karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus untuk menilik untuk mengGembalakan jemaat Allah yang diperolehnya dengan darah AnakNya sendiri”.  Dan surat Petrus mengatakan 1Pet. 5:2,3,4”Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu...tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.  Maka kamu...akan menerim mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.”[10]

Pengertian Gembala dalam Kebudayaan Jawa
            Dalam kebudayaan Jawa istilah kata ”Gembala” sebanding dengan Istilah kata ”Bocah Angon kata tersebut diidentikan dengan sosok raja yang sangat sakti, Angling Darma yang juga mempunyai sebutan istilah “Bocah Angon Gawane Sodo Lanang” uangkapan ini terdapat pada cerita kelahiranAngling Darma dan arti dalam perspektif Jawa memegang peranan sebagai “Culture Heros”,  pahlawan kebudayaan...pamong atau pelindung.  Sodo lanang memiliki pengertian ”Wahyu”, yang barang kali sejajar dengan Terminologi Kristus yang diurapi.[11]

Mitologi Jawa
            Waktu terus beredar dan telah berganti dengan Kaliyuga[12] yang membinasakan seluruh dunia.  Dengan nyata, adalah suatu pulau yang indah, ialah pulau Jawa yang tidak ada tandingannya, karena sangat luar biasa dan mengagumkan keindahannya.  Pada waktu itu di pulau tersebut ada rasa ketakutan karena dibakar oleh orang-orang jahat sehingga rusak karena tidak ada orang kuat yang menjagany.  Sayang keindahan yang mengharumkan (nama pulau) itu telah hilang, seperti hutan bunga yang binasa setelah ditinggalkan oleh singa, si raja binatang.
Ketika Dewa Wisnu melihat pulau itu Ia berbelas kasihan.  Ia merasa gelisah dan penat dalam hati.  Oleh karena itu, Dewa Wisnu turun ke dunia untuk menjadi Raja di pulau tersebut.  Ia berusaha sebaik-baiknya memelihara kerajaan itu[13]
Dikisahkan, di mana ketika kandungan Dewi Pramesti sudah berusia sembilan bulan, selama tujuh hari tujuh malam sang dewi merasakan sakit bersalin yang luar biasa.  Raja Jayabaya kemudian bersemedi di sanggar pemujaan.  Batara Narada datang memberitakan bahwa cucunya tidak akan lahir sebelum melepaskan kedudukannya sebagai titisan Dewa Wisnu.  Dewa Wisnu meninggalkan dirinya.  Alkisah, menyertai lahirnya Prabu Angling Darma.  Kemudian Raja Jayabaya memanggil seluruh kerabat keraton dan menjelaskan bahwa ”wahyu kedaton” akan segera berpindah kepada cucunya, Angling Darma.  Dari tubuh bayi Angling tampak sinar cahaya memancar laksana: ”teja manter sak sada lanang”[14]

Kesimpulan
            Gembala adalah mereka yang memelihara, merawat, melindungi, dan memperhatikan domba-dombanya.  Seorang Gembala juga harus memberikan makanan kepada domba-dombanya.  Seorang Gembala harus menggembalakan domba-dombanya di padang rumput yang hijau (Yeh. 34:14).  Oleh karena istilah Gembala yang sangat cocok dengan pribadi Allah, oleh sebab itu Allah memperkenalkan diriNya kepada bangsa Israel dengan sebutan Gembala.   Selain dari pada pengertian kata Gembala itu sendiri, tetapi Allah juga sedang menyesuaikan dengan keadaan situasi kebudayaan di Timur Tengah, dimana banyak penduduk di tanah Palestins bekerja sebagai Gembala.  Maka Allah berkontekstualisasi dengan bangsa pilihanNya dengan menggunakan istilah sebagai Gembala.  Selain pengertian tersebut Gembala juga memiliki pegertian sebagai dewa, raja.  Secara langsung dan tegas Allah pun menyatakan dirinya kepada bangsa Israel sebagai Dewa (Tuhan) segala tuhan dan Raja segala raja.
Dengan Allah memperkenalkan diriNya dengan memakai istilah Gembala.  Allah hendak menyatakan diriNya kepada Bangsa Israel, bahwa Ia adalah Allah yang senantiasa akan melindungi, menjaga, merawat, memperhatikan serta memelihara umatNya selayaknya dewa, raja dan bahkan Allah juga hendak menunjukan bahwa Ia juga merasakan apa yang sedang dirasakan oleh umatnya.  Seorang Gembala akan  senantiasa menjaga, memelihara dan merawat domba-dombanya.


Daftar Pustaka
______________-, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Komunikasi Bina Kasih OMF, 1995.
Anderson, Lynn.  They Smell Like Sheep, Louisiana: HOWARD, 1997.
Ingauf, John E.  Sekelumit Tentang Gembala sidang, Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2001.
Noorsena, Bambang, Menyongsong Sang Ratu Adil, Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen,        Yogyakarta: Andi, 2003.

Sugden, Howard F dan Warren W. Wiersbe.  Jawaban atas Masalah Penggembalaan, Malang: Gandum Mas, 1993.

Tidball, Derek J.  Teologi Penggembalaan, Malang: Gandum Mas, 2002.
Tomatala, Y., Teologi Kontekstualisasi, Malang: Gandum Mas, 2001.
Wongso, Peter.  Penggembalaan, Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1996.



[1]Y. Tomatala, Teologi Kontekstualisasi (Malang: Gandum Mas, 2001), Hal., 12.

[2]Derek J. Tidball, Teologi Penggembalaan, Suatu Pengantar  (Malang: Gandum Mas, 2002), hal.,

[3]­____________, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jakarta: Komunikasi Bina Kasih OMF, 1995), hal., 330.

[4]Lynn  Anderson, They Smell Like Sheep (Louisiana: HOWARD, 1997), hal,. 17.
[5]Derek. J., hal., 54.

[6]Anderson, hal., 13.

[7] Ibid.

[8]Ibid., 15. 

[9]Ibid., 17. 
 
[10]Ibid., 18. 

[11]Bambang Noorsena, Menyongsong Sang Ratu Adil, Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen (Yogyakarta: Andi, 2003), hal., 267-268.

[12]Ada 4 siklus dunia dalam agama Budha.  Dalam agama Budha, dunia yang sekarang berlangsung siklus ke-4 dan siklus ke-5 adalah dunia yang akan dating.  Jadi, urutan tokoh-tokoh  dhyani Budha itu dan penyejajarannya dengan caturyuga adalah sebagi berikut: Wairochana (Krayuga), Absobhya (tertayuga), Amoghasiddhi (Dwapadayuga), dan Amithaba (Kaliyuga).  Setelah habis kaliyuga kembali ke Krtayuga (zaman emas). 

[13]Bambang, hal. 313.

[14]Ibid., 268-269.

Tidak ada komentar: