Senin, 10 September 2012

PERSEPSI


PENDAHULUAN

            Apakah yang dimaksud dengan istilah persepsi?  Tugas ini diberikan kepada penulis sebagai syarat mengikuti mata kuliah psikologi umum. Istilah persepsi bagi penulis sendiri sangat asing.  Dari mendengarkan namanya saja kedengaran bahwa persepsi itu berasal dari bahasa asing.  Melalui paper ini penulis mencoba untuk mencari apa arti kata persepsi itu dan mencoba menyelidiki lebih dalam lagi mengenai kata itu, bukan hanya arti katanya saja tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan istilah kata persepsi itu sendiri.

            Penulis telah mencari dari beberapa sumber dari internet untuk mencari arti istilah kata Persepsi serta hal-hal yang berhubungan dengan persepsi.  Sumber-sumber tersebut diyakini kebenarannya oleh penulis karena dilihat dari latarbelakang penulisnya.  Melalui paper ini, penulis berharap dapat menjawab dan menyelesaikan tugas psikologi umum dengan baik.  Dan bagi para pembaca dapat memahami isi tulisan ini dengan baik pula.

 

 

Latar Belakang

 

Di dalam psikologi umum terdapat empat materi pembelajaran yang akan dipelajari.  Materi-materi tersebut adalah Motifasi, Persepsi, Belajar, dan Emosi. Keempat materi tersebut sangat penting  untuk dipelajari mengngat di dalam diri setiap manusia memiliki keempat sikap tersebut.  Keempat materi tersebut juga sangat menarik untuk dipelajari, mengingat akan kebutuhan mahasiswa teologi yang perlu mengembangkan pelayanannya.  Keempat materi tersebut dapat diterapkan di mana kita melayani jemaat

Psikologi adalah ilmu yang berhubungan erat dengan kepribadian manusia.  Dalam pelayanan psikologi dapat membatu kita untuk melayani jemaat.  Salah satunya adalah psikologi persepsi yang dapat dipakai oleh para mahasiswa sekolah teologi dalam mengambil setiap kesimpulannya atau keputusannya yang dilihat dan memperhitungkan dari setiap sudut pandang.  Sehingga setiap para mahasiswa dapat mengambil kesimpulan dengan bijaksana.

 

PERSEPSI

 

Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera (Dreverdalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu.
Sabri (1993) mendefinisikan persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya. Proses persepsi terdiri dari tiga tahap yaitu tahapan pertama terjadi pada pengideraan diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, tahapan ketiga yaitu stimulasi pada penginderaan diinterprestasikan dan dievaluasi.
Mar’at mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan.
              Mar'at (Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi di pengaruhi oleh faktor pengalaman,
proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis. Rahmat (dalam Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi juga ditentukan juga oleh faktor fungsional dan struktural. Beberapa faktor fungsional atau faktor yang bersifat personal antara kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subyektif. Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain: lingkungan keluarga, hukum-hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan struktural. Faktor-faktor personal antara lain pengalaman, proses belajar, kebutuhan, motif dan pengetahuan terhadap obyek psikologis.
Faktor-faktor struktural meliputi lingkungan keadaan sosial, hukum yang berlaku, nilai-nilai dalam masyarakat.  Pelaku orang lain dan menarik kesimpulan tentang penyebab perilaku tersebut atribusi dapat terjadi bila:
1. Suatu kejadian yang tidak biasa menarik perhatian seseorang.
2. Suatu kejadian memiliki konsekuensi yang bersifat personal.
3. Seseorang ingin mengetahui motif yang melatarbelakangi orang lain (Shaver, 1981;  
    Lestari, 1999).

Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen,   yaitu:
a. Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk meniiai
    sesuatu.
c. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan mengenai   
    proses persepsi, yaitu:
1.      Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan  
                  orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan  
                  penampilan fisik dan perhatian sekilas.
2.      Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi suatu  proses aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek yang merupakan faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan objek, kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut.  Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan atau disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994).[1]

Menurut para Ahli
1.      Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito).
2.      Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff).
3.      Persepsi ialah interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower).
4.      Persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu (Gibson).
5.      Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial, sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi social merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey & Aronson).
6.      Persepsi merupakan proses pemberian arti terhadaplingkungan oleh seorang individu (Krech).
7.      Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya.[2]

Menurut Para Tokoh
1.      Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti.[3]
2.      Mangkunegara (dalam Arindita, 2002) berpendapat bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap.[4]
3.      Robbins (2003) mendeskripsikan persepsi dalam kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka.[5]
4.      Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.[6]
5.      Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat  sesuatu tapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.[7]
6.      Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga.

Faktor-faktor yang ada di dalam Persepsi
Objek
Objek merupakan sesuatu atau benda yang menjadi pusat perhatian setiap individu.  Objek tersebut bisa berupa benda kelihatan atau sesuatu yang tidak kelihatan.  Sesustu yang nyata itu contohnya adalah gambar atau lukisan, patung.  Sesuatu yang tidak kelihatan itu adalah sikap, moral,dan etika seseorang yang menjadi fokus orang lain.
Indera
Indera adalah bagian tubuh manusia yang berguna untuk membatu manusia tersebut untuk dapat mengenali, merasakan sesuatu.  Manusia yang hidup secara normal biasanya memiliki lima alat panca indera.  Panca indera-panca indera manusia tersebut adalah mata, telinga, hidung, lidah, kulit.
Perhatian
            Perhatian adalah bagaimana kita memperhatikan suatu objek tertentu sehingga kita bisa menyikapi obyek tersebut, sesuai sisi mana yang kita perhatikan. Sudut pandang dalam memperhtikan suatu objek mempengaruhi hasil akhir kesimpulan yang akan kita ambil nantinya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik.
Dijelaskan oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi. Faktor-faktor ini dari :
1.  Pelaku persepsi (perceiver)
2.  Objek atau yang dipersepsikan
3.  Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan
Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung,  
     persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut.   
     Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan,
     motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha
     mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu.
     Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak
     dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal
     orang itu (Robbins, 2003).[8]
Gilmer (dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain.

Oskamp (dalam Hamka, 2002) membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat dalam persepsi, yaitu:
a.  Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
b.  Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
c.  Faktor-faktor pengaruh kelompok.
d.  Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor fungsional dan struktural. Faktor
     fungsional ialah faktor-faktor yang bersifat personal. Misalnya kebutuhan individu, usia,  
     pengalaman masa lalu, kepribadian,jenis kelamin, dan hal-hal lain yang bersifat
     subjektif. Faktor struktural adalah faktor di luar individu, misalnya lingkungan, budaya,
     dan norma sosial sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempresepsikan
     sesuatu.  Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa persepsi  
     dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu faktor pemersepsi
     (perceiver), obyek yang dipersepsi dan konteks situasi persepsi dilakukan.[9]

Aspek-aspek Persepsi
Pada hakekatnya sikap adalah merupakan suatu interelasi dari berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut Allport (dalam Mar'at, 1991) ada tiga yaitu:
1.  Komponen kognitif
Yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang
     tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan  
     tertentu   
     tentang obyek sikap tersebut.
2.  Komponen Afektif
Afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif
     yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.
3.  Komponen Konatif
Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan
     dengan obyek sikapnya.[10]
Baron dan Byrne, juga Myers (dalam Gerungan, 1996) menyatakan bahwa sikap itu
mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:
1.  Komponen kognitif (komponen perseptual)
yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu
     hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.
2.  Komponen afektif (komponen emosional)
yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap 
     objek sikap.  Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang
     merupakan hal yang negatif.
3.  Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component)
yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek
     sikap.  Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya 
     kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.[11]
Rokeach (Walgito, 2003) memberikan pengertian bahwa dalam persepsi terkandung komponen kognitif dan juga komponen konatif, yaitu sikap merupakan predisposing untuk merespons, untuk berperilaku. Ini berarti bahwa sikap berkaitan dengan perilaku, sikap merupakan predis posisi untuk berbuat atau berperilaku.
Dari batasan ini juga dapat dikemukakan bahwa persepsi mengandung komponen kognitif, komponen afektif, dan juga komponen konatif, yaitu merupakan kesediaan untuk bertindak atau berperilaku. Sikap seseorang pada suatu obyek sikap merupakan manifestasi dari kontelasi ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk memahami, merasakan dan berperilaku terhadap obyek sikap. Ketiga komponen itu saling berinterelasi dan konsisten satu dengan lainnya. Jadi, terdapat pengorganisasian secara internal diantara ketiga komponen tersebut.[12]

Hukum Persepsi

Hukum kedekatan
Hukum ini menyatakan bahwa sesuatu stimulus saling berdekatan satu sama lain akan ada kecenderungan untuk dipersepsi sebagai sutu keseluruhan.
Contoh: Kita akan melihat sama apabila kita menemukan dua orang yang bersahabat akrab.(si A jujur kita pasti juga menganggap si B juga jujur).
Hukum Figure Ground (bentuk dasar)

Hukum ini menyatakan bahwa seseorang melihat sesuatu berdasarkian bentuk dasarnya.
Misalnya ornga melihat sebuah fondasi bangunan sebuah gedung yang berbentuk persegi, maka orang tersebut akan memiliki kesimpulan bahwa bangun yang akan dibangun tersebut akan memiliki bentuk persegi sesuai fondasinya, meskipun bangunan gedung tersebut belum dibanagun atau didirikan.  Orang tersebut bisa mengambil kesimpulan ini karena dia melihat bentuk dasar dari bangunan itu.
Hukum kesamaan

Hukum ini mengatakan bahwa stimulus/objek yang sama akan dipersepsi sebagai suatu kesatuan/keseluruhan. Hukum ini hampir sama dengan hukum yang pertama.

Proses Persepsi dan Sifat Persepsi

Alport (dalam Mar’at, 1991) proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada.

Walgito (dalam Hamka, 2002) terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:
1.  Tahap pertama
Merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau proses fisik,
     merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.
2.  Tahap kedua
Merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan proses
     diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf
     sensoris.
3.  Tahap ketiga
Merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik, merupakan proses
      timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor.
4.  Tahap ke empat,
Merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan
     Perilaku Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses
     persepsi melalui tiga tahap, yaitu:

1.  Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat
     indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan
     informasi tentang stimulus yang ada.
2.  Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian
     informasi.
3.  Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan
     melalui proses  
     kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.[13]

Menurut Newcomb (dalam Arindita, 2003), ada beberapa sifat yang menyertai proses persepsi, yaitu:

1.  Konstansi (menetap): Dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang itu
     sendiri walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
2.  Selektif: persepsi dipengaruhi oleh keadaan psikologis si perseptor. Dalam arti bahwa 
     banyaknya informasi dalam waktu yang bersamaan dan keterbatasan kemampuan
     perseptor dalam mengelola dan menyerap informasi tersebut, sehingga hanya informasi
     tertentu saja yang diterima dan diserap.
3.   Proses organisasi yang selektif: beberapa kumpulan informasi yang sama dapat disusun 
     ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.[14]



[2]http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1837978-definisi-persepsi/melalui indera-indera yang dimilikinya.

[3]Philip Kotler. Marketing Manajemen: Analysis, Planning, implementation, and Control 9th Edition, Prentice Hall International, Int, New Yersey,_________,  2000.

[4]Arindita, S. Hubungan antara Persepsi Kualitas Pelayanan dan Citra Bank dengan Loyalitas Nasabah. Skrips, Surakarta: Fakultas Psikologi UMS, 2003.

[5]Robbins, S.P. Perilaku Organisasi. Jilid I, Jakarta: PT INDEKS Kelompok Garmedia, 2003.
[6]Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Andi, 2003.

[7]Rosyadi, I. Keunggulan kompetitif berkelanjutan melalui capabilities-based competition: Memikirkan kembali tentang persaingan berbasis kemampuan. Jurnal BENEFIT, vol. 5, No. 1, Surakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2001.
[8]Robbins, S.P. Perilaku Organisasi. Jilid I, Jakarta: PT INDEKS Kelompok Garmedia, 2003.
[9]Hamka, Muhammad. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pengawasan Kerja dengan Motivasi Berprestasi. Skrips,. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Fakultas Psikologi, 2002.

[10]___________, Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya, Jakarta: Ghalia Indonesia,1991.

[11]Gerungan, W. A. Psikologi Sosial. (edisi kedua). Bandung : PT Refika Aditama, 1996.

                12 Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Andi, 2003.

[13]Ibid

[14]Arindita, S. Hubungan antara Persepsi Kualitas Pelayanan dan Citra Bank dengan Loyalitas Nasabah. Skrips, Surakarta: Fakultas Psikologi UMS, 2003.

Tidak ada komentar: