Senin, 10 September 2012

Tafsir Kitab Wahyu 6:2


PENDAHULUAN
Kuda putih dengan penunggangnya yang membawa panah sangat sulit untuk ditafsirkan dan merupakan kunci untuk menafsirkan ketiga kuda selanjutnya (Why 6:2), timbulah pertanyaan di dalam benak penulis mengenai arti simbol dari kuda putih dengan orang yang menungganginya memegang sebuah anak panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota lalu ia maju sebagai pemenang, yang muncul ketika keenam metrai pertama dibuka.  Bagi penulis simbol ini sangat menarik menantang penulis untuk mencari arti yang tepat. 
Pastilah simbol kuda putih dalam nast ini memiliki maksud yang khusus.  Oleh karena itu penulis akan berusaha untuk mencari apa arti dari simbol kuda putih dalam kitab (Why 6:2) dengan melakukan penelitian dari berbagai sumber-sumber yang dianggap dapat membantu, dan menggunakan metode penafsiran yang sesuai dengan jenis sastra kitab tersebut.  Penulis akan berusaha untuk mendapatkan jawaban yang sesuai dengan maksud Rasul Yohanes dan dapat dipertahankan kebenaranya berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Beberapa Tafsiran Mengenai Kitab Wahyu 6:2
Ada beberapa dari buku-buku tafsiran yang membahas mengenai kuda putih di dalam kitab Wahyu khususnya di pasal 6:2.  Diantara tafsiran dari buku-buku tersebut mengatakan.  Pertama bahwa arti dari kuda putih dan penunggangnya yang memegang panah menunjuk pada seorang penakluk dalam suatu perang.  Pendapat tersebut berasal dari kebiasaan tentara Romawi ketika mereka merayakan pesta kemenangan. “ Mereka biasanya akan merayakannya dengan berparodi di jalan-jalan kota Roma …”maka keretanya akan ditarik dengan kuda-kuda putih sebagai tanda kemenangan”.[1] 
Pendapat ini adalah pendapat yang paling banyak dianut oleh para penafsir-penafsir kitab Wahyu oleh karena mereka melihat kesejaajaaraan antara keempat kuda yang berbicara mengenai musibah yang diakibatkan oleh bencana peperangan.  Tafsiran ini adalah tafsiran yang paling banyak dianut oleh para penafsir yang terdapat di dalam buku-buku yang mereka tulis.  “mengenai kuda putih dan orang yang menungganginya dimengerti sebagai lambang dari kekuatan militer yang akan demikian menonjol pada masa kesengsaraan…” kekuasaan akhir zaman.[2] 
Pendapat yang kedua adalah boleh jadi hal ini melambangkan Kristus, yang berangkat untuk mengalahkan dunia.  Menjelang akhir kitab ini (19:11), seekor kuda putih lain menampakkan diri, sedang pengendaranya dengan jelas dinyatakan adalah Kristus.  kedua pengendara kuda itu mungkin sama-sama adanya, yang sedang memulai, yang lain tengah mengakhiri kemenanganNya.[3]
Pendapat yang ketiga, mungkin kuda putih tersebut adalah dunia, di bawah kuasa siapa Kristus telah memulai pekerjaanNya.  Pernyataan pada akhir ketujuh meterai dan ketujuh sangkakala itu (11:15) adalah “pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan yang diurapiNya”.[4]
Pendapat keempat mengenai kuda putih dan orang yang menungganginya adalah antikris yang merupakan peniruan dari Kristus (band. Why. 19:11) dimana Kristus digambarkan sebagai seorang raja yang berkuasa yang memiliki kekuasaan serta memakai mahkota kerajaan diadhematadiadh,mata.[5]  Dimana penunggang kuda putih pasal 6:2 memakai mahkota seperti penunggang kuda putih pada pasal 19:11 namun mahkota yang mereka pakai berbeda, yakni ”Stefonos”.  Tafsiran ini salah satu tafsiran yang juga cukup banyak dianut oleh beberapa penafsir.  Kalau dilihat dari senjatanya yang biasanya panah digunakan untuk senjata penyerang dari jarak jauh.  Iblis akan menyerang orang-orang percaya dari jarak jauh.  Antikris akan menggunakan diplomasi damai untuk menjatuhkan orang-orang percaya.[6]
Pendapat kelima mengenai kuda putih dan penunggangnya dalam kitab (Why. 6:2) diartikan sebaagai perjalanan Injil di dunia (band.  Mrk. 13:10).  Dalam Mrk. 13: 10 panah-panah penunggang kuda diartikan sebagai Injil yang menikam hati orang-orang.[7]  Injil adalah senjata yang bukan digunakan untuk berperang secara jasmani atau Injil tidak digunakan untuk berperang secara langsung namun Injil digunakan untuk menyatakan kesalahan manusia supaya mereka yang berjalan di dalam kegelapan dapat berbalik kepada jalan yang terang dan juga memulyakan nama Tuhan.  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” 2Tim. 3:16.[8]
Pendapat keenam mengenai kuda putih dalam pasal 6:2, Kuda selalu berbicara tentang kekuatan, sedangkan warna putih menunjuk kepada kesucian.  Bila kedua hal ini digabungkan, maka bisa disimpulkan bahwa di akhir zaman ini akan muncul satu kekuatan atau kegerakan yang berkedok kesucian atau dalam kata lain dalam bentuk gerakan keagamaan.  Dan mungkin juga kegerakan ini mengatas namakan Tuhan di dalamnya.  Inilah gerakan agama-agama palsu di atas muka bumi yang bergerak dengan kedok-kedoknya dengan satu tujuan menyesatkan manusia yang ada di dalam dunia ini, kalau bisa termasuk juga orang-orang pilihanNya.[9]
Dari keenam pandangan di atas mengenai arti kuda putih dan penunggangnya, penulis lebih memilih dari pendapat yang kelima karena penulis menggap pendapa kelima memiliki arti yang mendekati maksud dari Rasul Yohanes.  Memang benar kuda putih bagi Bangsa Romawi dan pada zaman Rasul Yohanes memiliki arti untuk kemenangan dan di dalam Perjanjian Lama kuda sebagai lambing kekuatan militer.[10]

Makna yang Sesuai dengan Maksud Yohanes
Menurut hemat penulis kuda putih dengan penunggangnya yang juga membawa panah merupakan simbol dari keberhasilan atau kemenangan Injil.  Artinya ketika Injil disebar luaskan kepada umat manusia tak sedikit orang yang akan menolaknya.  Jadi penyebaran Injil tak semudah orang membalikkan tangan.  Penyebaran Injil juga mengalami penolakan yang besar.  Bahkan ada diantara mereka yang menolak Injil bertindak secara ekstrim dengan membentengi diri mereka dengan ideologi mereka. 
Bahakan mereka berupaya untuk menghancurkan Injil dan berusaha jugaa untuk membinasakan orang-orang yang menyebarkan Injil serta orang-orang yang menerima Injil tersebut.  Sejumlah ayat dalam Perjanjian Baru menunjuk pada kenyataan bahwa Injil kerajaan harus diberitakan kepada segala bangsa sebelum kedatangan Tuhan (Mat. 24:14, Mrk. 13:10, Rm. 11:25).[11]  Namun Alkitab mengatakan dengan tegas bahwa pada akhirnya Injil mengalami kemenangan, pada akhirnya akan ada banyak orang yang menerima Injil dan kemudia mereka bertobat dari dosa mereka serta mereka tetap bertahan meskipun mereka mengalami penganiayaan.
Oleh karena itulah Injil memperoleh kemenangan.  Injil memperoleh kemenangan dari orang-orang yang menentang dan melawannya.  Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Rom. 1:16).  Injil adalah kekuatan Allah sendiri maka takkan ada dan bahkaan takkan pernah ada segala sesuatu baik yang ada diatas langit, dibawah langit dan juga yang ada di dasar bumi yang dapat menghancurkannya.

Bab I

Latar Belakang
Dalam kitab Perjaanjian Lama banyak kata-kata hujatan terhadap Kuda (sus).  Kebanyakan adalah kiasan, terutama dalam kesusastraan dan daalam buku-buku bernada-nada puitis sepanjang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kuda selalu dihubungkan dengan perang dan kekuasaan, sedangkan keledai biasanya menggambarkan damai dan kerndahan.  Kuda telah ada di Mesir pada jaman kekuasaan Yusuf, digunakan untuk mengeejar orang Israel.  Moyang kuda adalah berasal dari padang rumput Eropa dan Asia.  Kuda-kuda yang tercatat dalam Alkitab agaknya berasal dari Eropa barat, Asia baratdaya dan Mongolia.  Batu prasasti Hammurabi lk 1750 sM dari Babael mengataka “keledai dari timur”.  Bangsa-bangsa yang hidup di tanah Kanaan mempunyai kuda yang digunakan untuk berperang Yoh. 11:4, 2Sam. 10:18, dst.[12]

Kuda secara ajek digunakan dalam Alkitab sebagai simbol kekuatan perang yang cenderung dijadikan andalan (Yes. 31:1).  Kuda hanya di miliki oleh orang kaya tidak pernah dimiliki oleh rakya jelata.[13]  Penunggang kuda putih dan membawa panah.  “Dalam Perjanjian Lama “panah” melambangkan kekuatan militer…”para pahlawan akan tertangkap dan busur-busurnya yang merupakan kekuatan kemiliterannya akan dihancurkannya (Yes. 51:566, Hos. 1:5, Mzm. 46:10)”.  Jadi busur selalu berbicara tentang kekuatan militer.[14]  “Panah” seharusnya “busur dan anak panah” dalam bahasa Yunani toxon ”tovxon”.[15]  Jadi panah disini berbicara tentang seperangkat alat perang yang terdiri dari busur panah dan anak panah “bow(add arrow)”[16]  oleh sebab itu panah tidak hanya menunjukan busur panah saja atau hanya sekedar menunjuk pada anak panah. 
Jadi kurang tepat jika orang-orang yang menafsirkan kuda putih dalam pasal 6:2 ini sebagai antikris yang berpatokan pada panah atau bow dalam bahasa inggrisnya yang hanya mereka tarjemahkan sebagai busur panah saja atau sebagai anak panah saja, yang kemudian memiliki arti yang lebih dalam lagi yakni busur dan anak panah akan menjadi sebuah salib, namun kenyatannya orang-orang yang menafsirkan kuda putih sebagai antikris memandang panah adalah sekedar busur atau anak panah saja, berarti jika busur tanpa anak panah maka tidak akan membentuk sebuah salib oleh sebab itu orang-orang yang percaya bahwa kuda putih pasal 6:2 adalah imitasi dari Kristus yakni antikris.  Putih adalah warna untuk kebenaran, berbuatan-perbuatan benar orang kudus, suci, terang. 
            Sejarah mencatat bahwa Bangsa Romawi pada tahun 62 M mengalami peristiwa yang sangat mengerikan dimana tentara Roma harus takluk kepada Vologesis, raja Persia…”dimana tentara Roma begitu dipermalukan dan direndahkan oleh orang-orang Persia sebagai kesatria penunggang kuda putih dan mereka adalah pemanah-pemanah yang termasyur di dunia.  Satu “pemanah orang Persia” adalah hantaman terakhir yang menghancurkan dan tidak mungkin dapat dibalas.  Jadi kuda putih dan penunggangnya yang membawa panah mempunyai arti militerisme dan penaklukan”.[17]
            Penunggang kuda putih (Why 6:2) juga diberikan suatu mahkota dalam bahasa Yunaninya maahkota ditulis stefanosstevfano" sesuatu karangan dedaunan, yang merupakan sebuah tanda kemenangan dalam dunia Yunani.  Stefanos sendiri diberikan kepada pejabat yang setia, pemenang lomba, dipakaai saat perjamuan, pancaran sinar.[18]

Gagasan yang Sama Dalam Perjanjian Baru
Nubuaatan kitab Wahyu sangat erat hubungannya dengan khotbah di bukit, dimana Tuhan Yesus Krisstus mengatakan bahwa penganiayaan besar akan terjadi menjelang kedatanganNya yang kedua kali, namun itu semua akan terjadi jika Injil sudah diberitakan kepada semua bangsa (Mrk. 13:10), barulah penganiayaan yang dasyat itu akan terjadi dan melanda dunia.
Di dalam kitab (Mrk. 13:10) Tuhan Yesus dalam kotbahnya tidak menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan firmanNya, hal ini mungkin bertujuan sebagai petunjuk bagi pengikutNya untuk membantu mereka dalam memecahkan lambang yang digunakan oleh Rasul Yohanes dalam tulisanya khususnya mengenai kemenangan Injil dalam kitab Markus, terhadap kuda putih dalam kitab (Why 6:2).

Sejumlah ayat dalam Perjanjian Baru menunjuk pada kenyataan bahwa Injil kerajaan harus diberitakan kepada segala bangsa sebelum kedatangan Tuhan, (Mat 24:14; Mrk 13:10, Rm 11:25).  Banyak ayat mengatakan bahwa orang kafir akan masuk ke dalam kerajaan Surga dalam jumlah yang besar selama jaman Perjanjian Baru.  (Mat 8:11;13:31,32, Luk 2:32, Kis 15:14, Rm 9:24-26, Ef 2:11-20).  Hal ini jangan diartikan Injil diberitakan pada satu orang demi satu orang dari segala bangsa yang ada di dunia, tetapi yang dituntut adalah bahwa bangsa-bangsa sebagai bangsa akan seluruhnya akan mendengar Injil.  Injil harus diberitakan kepada mereka sebagai sebuah kesaksian, sehingga dapat dikatakan bahwa sebuah kesempatan telah diberikan kepada mereka untuk memilih Kristus dan kerajaanNya atau tidak.  Tetapi bukan berarti bahwa segala bangsa secara keseluruhan akan menerima Injil, namun hanya akan ada kesempatan bagi seluruh bangsa untuk mendengar Injil dan Injil akan menjadi alat untuk membawa kepenuhan bagi orang kafir.[19]

Bab II
Arti Menurut Yohanes Bagi Tujuh Jemaat
Segala penglihatan yang sudah dilihat oleh Rasul Yohanes di pulau Patmos adalah merupakan peringatan atau himbauan kepada ketujuh jemaat, supaya mereka tetap hidup berjaga-jaga dan setia menantikan janji Tuhan,  karena Tuhan Yesus akan segera datang untuk yang kedua kalinya untuk menghakimi dunia.  Meskipun ketujuh jemaat tersebut mengalami penganiayaan hendaknya mereka tetap setia kepada Kristus sampai mati.
Penglihatan tentang kuda putih dan penunggangnya yang membawa panah adalah merupakan simbol dari kemenangan Injil.  Jadi Injil yang mereka percayai dan mereka pertahankan bahkan sampai nyawa mereka sebagai taruhannya itu semua merupakan Injil yang benar-benar berasal dari Allah oleh sebab itu apa yang mereka percayai mengenai Injil, merupakan kebenaran yang sejati dan patut untuk dipertahankan.  Meskipun Injil dan orang-orang yang mempercayainya ditentang oleh dunia namun Allah sendiri yang akan membuktikan kebenaranNya dan Injil tersebut akan memperoleh kemenangan dari pihak-pihak orang yang menentangnya.  Tidak akan sia-sia jika ketujuh jemaat tetap mempertahankan kepercayaannya kepada Injil karena pada akhirnya Injilah yang akan memperoleh kemenangan.
Seperti apa yang digambarkan oleh Rasul Yohanes tentang kuda putih dan penunggangnya yang membawa panah adalah keberhasilan Injil yang disampaikan keseluruh dunia meskipun begitu banyak tantangan dan perlawanan dari mereka-mereka yang tidak mau mempercayai kebenaran Injil alhasil Injil memperoleh kemenangan secara mutlak meskipun harus dibayar dengan nyawa para orang percaya yang tetap berpegang teguh pada kebenaran injil tersebut.

Bab III
Aplikasi Masa Kini
            Meskipun Injil adalah kebenaran Allah yang sejati ternyata tidak sedikit orang yang menentangnya, bahkan tidak jarang bagi orang Kristen yang dianiaya karena mempertahankan kekenaran Injil tersebut.  Untuk mencapai suatu kemenangan Injil harus mengalami begitu banyak perlawanan yang juga mengakibatkan banyak nyawa orang percaya hilang, mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi Injil karena mereka mempercayai dan mempunyai pengharapan kepada Kristus.
Jadi jelas sekalin penglihatan Rasul Yohanes mengenai kuda putih dalam pasal 6:2 yang memiliki arti akan kemenangan Injil dan ketujuh Jemaat diharapkan untuk tetap hidup di dalam Tuhan karena kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya sudah dekat, karena sudah banyak orang percaya yang mati demi mempertahankan kebenaran Injil.  Hal tersebut berarti menjadi tanda bahwa sudah jelas penglihatan RasulnYohanes hendak memberitahukan bahwa Injil sudah mengalami kemenangan atas orang-orang yang menentangnya.
Maka aplikasinya untuk masa kini adalah jika orang kristen dan gereja dianiaya berarti sudah banyak orang yang mau menerima Injil dan itu semua menyebabkan terjadinya perlawanan dari pihak orang-orang yang tidak mau menerima Injil, dan jika Injil itu sudah didengar oleh semua orang maka kedatangan Tuhan yang kedua sudah tidak lama lagi, berarti Injil sudah mengalami kemenangan.  Oleh sebab itu setiap orang percaya harus tetap hidup di dalam jalan Tuhan supaya mereka dapat datang di hari perkawinan Anak Domba Allah.
Saya sungguh bersukur setelah mempelajari Kitab Wahyu ini, selain saya memperoleh pengetahuan, saya juga dikuatkan dalam panggilan saya supaya saya lebih setia lagi kepada Kristus. Terkadang saya berpikir mengapa Allah memilih saya, dan mengapa saya harus mengenal-Nya dan menjadi pengikut-Nya.  Bukankah masih ada orang lain yang lebih hebat dan lebih baik dari saya.  Saya sungguh bersyukur Tuhan Yesus mau mengenal diri saya. Setelah menyikapi arti ayat ini saya ditantang untuk hidup berjaga-jaga dan juga harus memberitakan Injil kepada orang yang belum mendengarkannya supaya mereka juga diselamatkan Allah.
Dengan melihat hasil tafsiran di atas saya dikuatkan, bahwa Injil akan mengalami kemenangan dan hal ini membuat saya lebih optimis lagi untuk memberitakan kebenaran Firman Tuhan supaya firma-Nya digenapi dan Tuhan Yesus segera datang .  Untuk meresponi akan Anugrah Tuhan yang sudah diberikan kepada saya secara gratis ini, maka saya pun harus membagikan kepada orang lain juga terutama keluarga dekat saya terlebih dahulu.


Kesimpulan
            Jadi penglihatan yang diterima oleh Rasul Yohanes di pulau Patmos mengenai kuda putih dengan penunggangnya yang membawa panah merupakan gambaran atau simbol dimana pada akhirnya Injil kebenaran Allah memperoleh kemenangan yang mutlak atas penindasan yang telah dialami oleh para orang saleh yang tetap memegang Injil.  Injil memperoleh kemenangan bukan melalui perang fisik namun melalui kesabaran dan ketabahan serta ketekunan orang-orang percaya dalam menghadapi derita aniaya karena Injil.
            Meskipun mereka mendapat perlakuan yang tidak adil oleh dunia, namun mereka tetap bersikukuh dalam mempertahankan iman mereka.  Orang-orang percaya tidak hanya mempercayai akan Injil saja namun mereka juga pergi kepada orang-orang yang membutuhkan keselamatan dari Allah, buktinya adalah banyak orang-orang yang bertobat sehingga menyebabkan terjadinya banyak penganiayan bagi orang percaya karena banyak orang sudah bertobat dam menerima kebenaran Injil.
            Marilah kita yang masih tinggal hidup di zaman ini tetaplah percaya akan janji-janji Allah dan beritakanlah juga kabar sukacita itu atau Injil itu kepada semua bangsa supaya mereka juga memperoleh keselamatan dari pada Allah, dengan memberitakan Injil kepada semua orang berarti akan mempercepat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya karena dengan demikian akan banyak orang yang akan menjadi pengikut Kristus.  Meskipun akan banyak tantangan yang akan kita hadapi, bahkan nyawa kita akan menjadi taruhannya namun percayalah bahwa Allah yang adil akan membalaskan semuanya.  Masih banyak orang-orang yang belum mengenal Injil dan itu merupakan tugas dan tanggung jawab kita.  Kita harus melihat tanda itu sebagai peringatan untuk bangkit, sadar, bersiap diri dan aktif dalam pekerjaan Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA
___________________.  Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2008.

___________________.  Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I A-L, Jakarta: Yayasan Komunikasi KasihBina Kasih/ OMF, 1995.
___________________.  Handbook to The Bible, Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, Terj. Dra. Ny. Yap Wei Fong dkk, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1973.

___________________.  Oxford English Dictionari, 2nd Ed., S.V. “bow”, Oxford: Oxford Universiti Pres, 1992.

___________________.  Tafsiran Masa Kini Vol. 3 Mat-Why, Berdasarkan fakta-fakta sejarah ilmiah dan alkitabiah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982.

Dave Hagelberg.  Tafsiran Wahyu dari Yunani, Yogyakarta: Andi, 2005.

David H. van Daalen.  Pedoman Dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.

Endah Christina.  Diktat The Book of Revelation, Salatiga: STT Berea, 2011.

Henry H Halley.   Penuntun ke dalam Perjanjian Baru , Terj. Siem Hong an dan Liem Khiem Soe Surabaya:YAKIN, 1979.

J.J.De Heer.  Tafsir Alkitab, Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.
J. Wesley Brill, Dasar yang Teguh, Bandung: Yayasan Kalam Hidup,2003.
Louis Berkhof.  Teologi sistematika, Doktrin Akhir Jaman, Vol.6, Terj. Yudha Thianto Jakarta: Lembaga Reformasi Injil Indonesia, 1998.

Obaja A.  Rawan.  Kotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman, Bandung: Cipta olah Pustaka, 1999.

Peter Wongso.  Eksposisi Doktrin Alkitab, Kitab Wahyu, Malang: Seminar Alkitab Asia Tenggara, 1999.

Tim Lahaye.  Penyingkapan Kitab Wahyu, Pevelation Unveiled, Batam: Gospel Press, 2006.

William Barclay.  Memahami Alkitab Setiap Hari, Kitab Wahyu Kepada Yohanes, Pasal 6:2, Diterj. Ayub Ranoh, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

__________________________
[1]Barclay, William, Memahami Alkitab Setiap Hari, Kitab Wahyu Kepada Yohanes, Pasal 6:2, Diterj. Ayub Ranoh (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal.  5.

[1]Hagelberg, Dave, Tafsiran Wahyu dari Yunani (Yogyakarta: Andi, 2005), hal. 131.

[1]Halley, Henry H, Penuntun ke dalam Perjanjian Baru , Terj. Siem Hong an dan Liem Khiem Soe (Surabaya:YAKIN, 1979), hal.  339-340.

[1]Ibid., 340.

[1]Ibid., 130-131.

[1]Rawan, Obaja A,  Kotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman (Bandung: Cipta olah Pustaka, 1999), hal. 165.

[1]De Heer, J.J., Tafsir Alkitab, Wahyu Yohanes (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hal. 85.

[1]_________, Alkitab (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2008), hal. 296.

[1]Rawan, hal. 164.

[1]De Heer, hal.  86.

[1]Berkhof, Louis, Teologi sistematika, Doktrin Akhir Jaman, Vol.6, Terj. Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reformasi Injil Indonesia, 1998), hal. 73.

[1]___________,  Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilit I A-L “kuda” (Jakarta: Yayasan Komunikasi KasihBina Kasih/ OMF, 1995), hal. 61­5-616.

[1]___________________.  Handbook to The Bible, Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, Terj. Dra. Ny. Yap Wei Fong dkk ( Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1973), hal. 117.

[1]Barclay,  hal. 6.
[1]Wongso, Peter, Eksposisi Doktrin Alkitab, Kitab Wahyu (Malang: Seminar Alkitab Asia Tenggara, 1999), hal. 440.

[1]_______­­___________.  Oxford English Dictionari, 2nd Ed., S.V. “bow” (Oxford: Oxford Universiti Pres, 1992).

[1]Barclay, hal. 6-7.
[1]Christina, Endah, Diktat The Book of Revelation (Salatiga: STT Berea, 2011), hal. 17.

[1]Berkhof, hal.  74.


Tidak ada komentar: